, ,

Passion Yang Mengantarkan Kesuksesan Fantastis Peternak Perkutut Malang

oleh -1409 Dilihat

Dari Iseng ke Kesuksesan: Kisah Harijono Raih Ratusan Juta dari Budidaya Perkutut Lomba

Batu- Awalnya cuma penasaran, kini dedikasinya membuahkan kesuksesan yang nyata. Harijono (55), seorang warga Pakis, Kabupaten Malang, telah membuktikan bahwa passion yang ditekuni dengan serat bisa mengantarkan pada prestasi dan nilai ekonomi yang fantastis. Pria yang akrab disapa Jono ini kini dikenal sebagai breeder (pembudidaya) burung perkutut lomba yang sukses, dengan burung-burung andalannya bernilai hingga ratusan juta rupiah.

Passion Yang Mengantarkan Kesuksesan Fantastis Peternak Perkutut Malang
Passion Yang Mengantarkan Kesuksesan Fantastis Peternak Perkutut Malang

Baca Juga : Seniman Visual Memukau Dari Media Tak Biasa Di Galeri Raos Batu

Passion Burung perkutut (Geopilia striata) sejak lama menjadi primadona di kalangan pencinta burung kicau. Daya tarik utamanya terletak pada suara atau “katuranggan”-nya yang khas, merdu, dan menenangkan. Tingginya minat, khususnya untuk keperluan kontes atau lomba, membuat harga burung ini bisa melambung sangat tinggi, bahkan menyamai harga mobil. Inilah peluang yang dilihat dan dimanfaatkan oleh Harijono dengan sangat baik.

Perjalanan Panjang Dimulai dari Sebuah Obrolan

Perjalanan Jono di dunia perkutut bermula lebih dari dua dekade lalu, tepatnya pada tahun 2000. Saat itu, ia masih bekerja sebagai tenaga pemasaran di sebuah perusahaan. Nasib membawanya bertemu dengan seorang pelanggan yang ternyata是一名pembudidaya perkutut lomba.

“Waktu itu saya hanya iseng ngobrol. Tapi dari obrolan itulah, saya baru tersadar bahwa ternyata hobi memelihara burung perkutut ini bisa menjadi bisnis yang sangat menjanjikan.

Rasa penasaran itulah yang menjadi bahan bakar awalnya. Ia pun memutuskan untuk serius belajar dan berguru langsung kepada breeder kenalannya tersebut. Jono tidak setengah-setengah; ia mempelajari segala aspek, mulai dari teknik penjodohan, perawatan indukan, penetasan telur, hingga hal yang paling krusial: memahami seluk-beluk suara dan irama kicauan perkutut yang bagus.

“Tidak semua perkutut itu sama. Perkutut lomba itu spesial. Yang kita cari adalah kualitas suara dan iramanya. Kalau boleh dianalogikan, seperti penyanyi. Ada yang suaranya biasa saja, tapi ada yang memiliki ‘jiwa’ dan irama yang membuat siapapun terpukau. Begitu juga dengan perkutut,” papar Jono menjelaskan filosofi di balik hobinya.

Buktikan di Lapangan, Raih Segudang Prestasi

Untuk Passion mengasah kualitas burung-burung hasil budidayanya, Jono aktif mengikuti berbagai perlombaan, baik di tingkat Malang Raya, Surabaya, maupun Blitar. Ketekunannya tidak sia-sia.

Kesuksesannya bukan hanya diukur dari piala, tapi juga dari nilai ekonomi. Salah satu burung jagoannya yang bernama “Fatin” kerap menang lomba hingga akhirnya dilepas dengan harga fantastis, Rp 50 juta. Namun, kebanggaan terbesarnya saat ini adalah sepasang perkutut bernama “Bangga Agung”.

“Maskot saya ini pernah ditawar hingga Rp 160 juta oleh seorang pengusaha batu akik dari Kalimantan,” ungkap Jono. Tawarannya yang menggiurkan itu ternyata ditolaknya. “Alasannya sederhana, Bangga Agung ini bukan sekadar burung, tapi adalah ‘aset pemuliaan’. Meski usianya sudah sekitar 6 tahun, suaranya masih sangat merdu dan sering juara. Jika dikembangbiakkan, ia akan menghasilkan bibit-bibit unggul yang menjadi generasi penerus,” tambahnya penuh keyakinan.

Tantangan dan Proses Budidaya yang Penuh Ketelitian

Jono menegaskan bahwa jalan menuju kesuksesan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Budidaya perkutut lomba adalah seni yang memadukan kesabaran, insting, dan ilmu.

“Anggapan bahwa indukan juara pasti menghasilkan keturunan yang lebih hebat itu tidak selalu benar. Ini seperti undian. Dari indukan berkualitas, kita berharap dapat anakan yang ‘moncer’. Tapi, dapat tidaknya itu adalah rezeki dan hasil dari perawatan yang maksimal,” terangnya.

“Ring ini seperti KTP-nya burung. Ia mencatat garis keturunan dan asal-usulnya. Jika nanti burung ini juara, kita bisa melacak ‘silsilah’-nya. Ini sangat penting untuk menilai kualitas genetiknya,” tutur Jono.

Tiga Kelas dalam Dunia Perlombaan

Cara utama untuk menguji kualitas seekor perkutut adalah dengan mengikutkannya dalam lomba. Jono menjelaskan, terdapat tiga kelas utama dalam kontes perkutut:

  1. Kelas Piyik Hanging: Untuk burung berusia di bawah 5 bulan. Burung di gantang sendiri (tidak berpasangan) dengan ketinggian tiang yang paling rendah.

  2. Kelas Piyik Junior: Untuk burung berusia di bawah 7 bulan. Sama seperti hanging, burung tidak sepasang dengan ketinggian tiang sekitar 4 meter.

  3. Kelas Dewasa: Untuk burung berusia 8 bulan ke atas. Kelas ini mensyaratkan burung untuk diikutsertakan sepasang (jantan dan betina) dan digantang pada tiang setinggi 7 meter.

Dari Kota Batu, ia membuktikan bahwa suara merdu seekor perkutut bisa mengantarkan pada mimpi yang nilainya ratusan juta rupiah.

Strategi Sukses Harijono: Kunci Merawat Champion dan Membangun Bisnis yang Berkelanjutan

Setiap hari, ia memulai rutinitasnya sebelum matahari terbit. Selanjutnya, ia menyiapkan pakan khusus yang terdiri dari campuran milet, kenari, dan godem yang kaya nutrisi. Tidak hanya itu, ia juga memberikan tambahan vitamin dan mineral secara rutin untuk menjaga kondisi fisik dan mental burung-burungnya. “Perawatan yang konsisten adalah kunci. Seekor champion terlahir dari perawatan yang penuh perhatian,” tegasnya.

Selain itu, Harijono sangat menekankan pentingnya melatih mental burung

Misalnya, ia sering membawa burung-burung andalannya ke tempat ramai atau dekat dengan jalan raya. Tujuan dari latihan ini adalah agar burung tidak kaget dan tetap berkicau dengan maksimal saat berada di lokasi lomba yang biasanya penuh dengan keramaian. Dengan kata lain, mental yang tangguh sama pentingnya dengan suara yang merdu.

Di sisi lain, Passion Harijono juga pintar membaca peluang pasar. Ia menyadari bahwa bisnis ini tidak hanya tentang menjual burung, tetapi juga tentang membangun kepercayaan. Sebagai contoh, ketika ada pelanggan yang membeli anakan dari “Bangga Agung”, ia memberikan sertifikasi sederhana tentang silsilah burung tersebut.

Namun demikian, perjalanannya tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami kegagalan ketika sepasang indukan unggul justru menghasilkan keturunan dengan suara biasa saja. Akan tetapi, Harijono tidak menyerah. Ia menganggap kegagalan itu sebagai bagian dari proses belajar. Bahkan, pengalaman tersebut membuatnya semakin giat melakukan seleksi yang lebih ketat terhadap indukan-indukannya.

Ke depannya, pria yang rendah hati ini memiliki visi yang jelas. Ia berencana untuk mengembangkan sayap bisnisnya dengan memanfaatkan teknologi digital. Salah satu rencananya adalah membuatkan kandang showcase berteknologi tinggi yang memungkinkan calon pembeli dari luar kota untuk melihat langsung kondisi dan mendengar kicauan burung secara live melalui media sosial atau platform khusus. Dengan demikian, jangkauan pasarnya bisa semakin meluas.

Pada akhirnya, kisah Harijono adalah sebuah bukti nyata bahwa ketekunan, ilmu, dan strategi yang tepat mampu mengubah sebuah ketertarikan awal menjadi empire bisnis yang menguntungkan.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.