, ,

Denyut Nadi Ekonomi Batu Bukan Di Menara Baja, Tapi Di Kaki Lima

oleh -647 Dilihat

Kota Batu di Tengah Gelombang Ekonomi Kreatif: Mengapa Hampir Setengah Pilih Jalan Wirausaha?

Kota Batu- Di balik pesona alam dan hawa sejuknya, Kota Batu menyimpan dinamika ekonomi yang unik. Berbeda dengan kota-kota besar yang didominasi gedung perkantoran, hampir separuh dari denyut nadi ekonomi warga Batu justru berasal dari sektor informal yang penuh warna. Data terbaru dari Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batu mengungkapkan fakta mencolok: 49% dari total angkatan kerja memilih untuk mengais rezeki di sektor informal.

Denyut Nadi Ekonomi Batu Bukan Di Menara Baja, Tapi Di Kaki Lima
Denyut Nadi Ekonomi Batu Bukan Di Menara Baja, Tapi Di Kaki Lima

Baca Juga : Wujudkan Pelayanan Prima, Polres Batu Gelar Gladi Penanganan Kriminal Via Call Center 110

Apa saja bentuknya? Ragamnya sangat luas, mulai dari petani dan peternak yang menghijaukan lereng gunung, pedagang kuliner dan oleh-oleh khas, hingga para seniman dan perajin yang mengubah kreativitas menjadi sumber penghidupan. Sementara itu, 51% sisanya memilih jalur formal sebagai pegawai negeri atau karyawan swasta.

Fleksibilitas dan Potensi Ekonomi Jadi Daya Tarik Utama

Lantas, apa yang membuat sektor informal begitu diminati? Kepala Disnaker Kota Batu, Thomas Wunang Tjahjo, membeberkan sejumlah alasan. Menurutnya, Kota Batu adalah lahan subur bagi tumbuhnya usaha mandiri.

“Kota Batu sangat potensial dan penuh peluang untuk membuka usaha, terutama di bidang pertanian dengan sistem hortikultura,” ujar Thomas. “Yang menarik, peluang ini tidak berhenti di produksi saja. Para pelaku usaha bisa memperluas dengan memasarkan sendiri produknya dan menentukan segmentasi pasar yang mereka inginkan.”

Fleksibilitas jam kerja menjadi magnet lainnya. Dalam sektor informal, seseorang bisa menjadi tuan atas waktunya sendiri. Fenomena ini bahkan menciptakan tren side job. “Kami melihat ada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang di siang hari bekerja profesional, dan di waktu lain mereka adalah peternak atau pengusaha sampingan yang sukses,” tambah Thomas, yang juga merupakan mantan Kepala BPS Kota Batu.

Minim Risiko PHK dan Didominasi Generasi Z

Dari sisi keamanan kerja, sektor informal dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Thomas menekankan bahwa sektor ini minim risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Berbeda dengan sektor formal yang rentan terhadap gejolak perusahaan seperti pailit, pekerja informal memiliki kendali yang lebih besar atas nasib usahanya.

Tidak mengherankan, jika kemudian sektor ini menjadi daya pikat utama bagi Generasi Z. Bagi generasi yang tumbuh dengan nilai kebebasan dan fleksibilitas, menjadi “kupu-kupu” (kuliah-pulang-kuliah-pulang) atau “karya-karya” (karyawan-karyawan) di kantor seringkali terasa membosankan.

“Karakter Gen Z yang cenderung ingin bebas, tidak terikat, dan fleksibel, membuat wirausaha menjadi pilihan yang lebih relevan,” jelas Thomas. “Ditambah dengan penguasaan teknologi digital yang mumpuni, mereka memiliki senjata ampuh untuk mengembangkan bisnis, mulai dari pemasaran online hingga membangun komunitas pelanggan.”

Tantangan di Balik Cerita Kesuksesan

Meski menjanjikan kebebasan dan potensi income yang besar, jalan para pejuang sektor informal tidak selalu mulus. Thomas mengingatkan sejumlah tantangan berat yang harus dihadapi.

  1. Ketidakpastian Pendapatan: Berbeda dengan gaji bulanan yang tetap, pendapatan di sektor informal bisa fluktuatif tergantung musim dan permintaan pasar.

  2. Ketergantungan pada Alam: Sektor pertanian dan peternakan, yang menjadi tulang punggung banyak warga, sangat bergantung pada cuaca. Akhir-akhir ini, cuaca ekstrem menjadi ancaman serius yang sulit diprediksi.

  3. Persaingan yang Semakin Ketat: Pertumbuhan bisnis baru yang masif, baik dari dalam maupun luar kota, membuat persaingan usaha semakin sengit.

  4. Minimnya Perlindungan Sosial: Ini adalah tantangan terbesar. Pekerja informal umumnya tidak memiliki akses terhadap jaminan sosial, kesehatan, pensiun, ataupun tunjangan lainnya yang lahir didapatkan oleh pekerja formal.

Menatap ke Depan: Adaptasi dan Inovasi adalah Kunci

Menghadapi tantangan ini, Thomas menegaskan bahwa satu-satunya jalan adalah dengan terus beradaptasi. Para pelaku usaha dituntut untuk lebih kreatif, inovatif, dan tanggap terhadap perkembangan zaman dan selera pasar.

Dukungan dari pemerintah dan kolaborasi antar pelaku usaha juga menjadi kunci untuk membangun ketahanan ekonomi sektor informal. Dengan begitu, pilihan 49% warga Kota Batu untuk berkarya di sektor informal bukan sekadar pilihan darurat, melainkan sebuah langkah strategis menuju kemandirian ekonomi yang berkelanjutan di tengah pesona Kota Batu.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.