, ,

Denyut Nadi Al Izzah IIBS Batu Dapur Strategis Yang Tak Pernah Tidur

oleh -528 Dilihat

Gerbang Cita Rasa Santri: Mengintip Dapur Raksasa Al Izzah IIBS Batu yang Produksi 8.700 Porsi Sehari

Batu- Di balik tembok pesantren yang tenang, terdapat denyut nadi yang tak pernah berhenti: dapur. Bagi Al Izzah International Islamic Boarding School (IIBS) Kota Batu, dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan pusat logistik strategis yang menjamin stamina dan kesehatan lebih dari 2.900 jiwa setiap harinya. Bayangkan, dalam 24 jam, dapur ini harus menyajikan total 8.700 porsi makanan yang lezat, bergizi, dan higienis untuk para santri dan tenaga pendidik.

Denyut Nadi Al Izzah IIBS Batu Dapur Strategis Yang Tak Pernah Tidur
Denyut Nadi Al Izzah IIBS Batu Dapur Strategis Yang Tak Pernah Tidur

Baca Juga : Gelombang Penurunan Omzet Paksa 27% Pedagang Pasar Pagi Batu Tutup Lapak

Dua Pilar Raksasa: Strategi Logistik yang Cermat

Untuk mengelola skala produksi yang sebanding dengan industri hotel besar, Al Izzah IIBS mengandalkan dua dapur utama yang beroperasi secara paralel. Pembagian ini memastikan efisiensi dan kedekatan layanan dengan konsumennya.

  • Dapur Asrama Putra: Beroperasi layaknya pabrik kuliner yang gesit, dapur ini memproduksi 4.800 porsi setiap hari. Jumlah ini mencukupi kebutuhan 1.600 orang, yang terdiri dari 1.300 santri dan 300 tenaga kependidikan.

  • Dapur Asrama Putri: Tidak kalah sibuknya, dapur putri menyajikan 3.900 porsi harian untuk 1.300 orang, termasuk 1.050 santriwati dan 250 tenaga kependidikan.

Angka fantastis ini adalah akumulasi dari tiga waktu makan: sarapan, makan siang, dan makan malam, yang membentuk siklus rutin pemberi energi bagi seluruh keluarga besar pesantren.

Orkestrasi 20 Koki: Ketepatan Waktu dan Standar Profesional

Lantas, siapa dalang di balik melimpahnya hidangan bergizi ini? Jawabannya adalah sebuah tim yang solid yang terdiri dari 20 koki profesional, dengan pembagian 10 orang di setiap dapur. Di bawah koordinasi Direktur Kerumahtanggaan Al Izzah IIBS, Ust. Ahmad Sohibud Dawam, mereka bekerja dengan presisi layaknya orkestra simfoni.

“Jam makan telah terjadwal dengan ketat, yaitu pukul 06.30-07.30 untuk sarapan, 11.30-12.30 untuk makan siang, dan 16.30-17.30 untuk makan malam. Dalam rentang waktu itulah, ribuan porsi harus siap disajikan dengan kualitas terbaik,” jelas Dawam.

Yang membedakan dapur Al Izzah bukan hanya skalanya, tetapi juga komitmennya terhadap standar profesional. Jauh sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) digaungkan pemerintah, pesantren ini telah lama menerapkan filosofi yang sama. Bahkan, mereka telah melangkah lebih jauh dengan memastikan seluruh tenaga kulinernya bersertifikat resmi.

Komitmen pada Higienitas dan Kompetensi: Sertifikasi di Ujung Sendok

Setiap koki dan pekerja dapur di Al Izzah IIBS telah mengantongi sertifikat penjamah makanan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di bawah naungan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), atas rekomendasi Dinas Kesehatan Kota Batu. Sertifikasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan jaminan nyata atas kompetensi mereka.

“Dengan sertifikasi ini, kami memastikan semua yang terlibat memiliki keahlian yang mumpuni. Prosesnya terstandardisasi, mulai dari pemilihan bahan pangan yang berkualitas, pemrosesan yang sehat, hingga teknik penyajian yang higienis,” tegas Dawam.

Komitmen pada kebersihan bahkan merambah hingga hal yang paling mendasar. “Termasuk, pekerja dapur juga dibekali kompetensi untuk mencuci alat makan dengan baik dan benar. Ini adalah bagian dari ikhtiar kami untuk menjaga kesehatan santri secara menyeluruh,” tambahnya.

Dengan demikian, dapur Al Izzah IIBS Batu tidak hanya berhasil memenuhi kebutuhan fisik ribuan penghuninya, tetapi juga menjadi benteng pertama dalam menjamin keamanan, gizi, dan kesejahteraan mereka. Sebuah pencapaian luar biasa yang mengukir cita rasa bukan hanya di lidah, tetapi juga dalam kenangan indah masa pesantren.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.